EKSISTENSI TRADISI MERDANG MERDEM ORANG KARO (KERJA TAHUN, PESTA TAHUNAN) DI DESA JUHAR KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang memiliki kebudayaan atau
tradisi yang sangat menarik untuk dilihat dan didalami, kebudayaan dan tradisi
yang dimiliki bangsa indonesia merupakan suatu identitas bangsa yang harus
dijaga dan dilestarikan. Meskipun ditengah-tengah kemajuan teknologi yang
sangat mempengaruhi tradisi yang ada di suatu wilayah tertentu. kebudayaan
tradisi merdang merdem orang karo sebenarnya tidak hanya masyarakat di desa
Juhar saja yang melaksanakannya melainkan masyarakat Tanah Karo mengenal
tradisi tersebut dan waktu pelaksanaannya juga berbeda-beda disetiap wilayah
masing-masing yang ada di tanah karo. Namun hal menariknya adalah di Desa Juhar
Kabupaten Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara waktu pelaksanaan tradisi merdang
merdem ini puncaknya berada di tanggal 17 agustus bertepatan dengan tanggal
lahirnya suatu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
Setiap suku yang ada di Indonesia pasti memiliki
tradisi-tradisi yang berbeda-beda, suku karo salah satu suku dari sebagian suku
yang ada di Indonesia. Suku batak Karo umumnya tinggal di dataran tinggi dan
dekat dengan pegunungan menurut pembagian tempat tinggal orang karo ada dua
yaitu orang karo yang berada didataran tinggi tanah karo yaitu di Brastagi,
kabanjahe dan di sekitarnya selain itu ada juga orang karo yang tinggal di Langkat
dan Deli dan sekitarnya yang dikenal dengan sebutan orang karo jahe, umunya yang sangat paham adat dan
kebudayaan orang karo yaitu orang karo yang berada didataran tinggi Tanah Karo
atau biasa disebut Karo gugung.
Orang Karo merupakan suku asli yang ada di Sumatera Utara,
Taneh Karo yang mempunyai adat, kebiasaan dan tata karma yang baik. Orang Karo
lebih dikenal dengan istilah kalak karo
yang artinya adalah orang Karo dalam bahasa Indonesia. Orang Karo memiliki
Marga atau biasa disebut merga silima dalam
bahasa Karo, lima marga tersebut adalah : Tarigan, Ginting, Karo-Karo,
Sembiring dan Perangin-angin. Setiap marga tersebut memiliki sub marga dari
marga utama seperti Contoh Tarigan memiliki sub marga Tarigan Tua, Tarigan
Bondong, Tarigan Gersang, Tarigan Sibero, Tarigan Cingkes, Tarigan Silangit,
Tarigan Gana-gana, Tarigan Tambak, Tarigan Gerneng dan masih ada beberapa lagi
sub marga Tarigan. Setiap sub-sub marga tersebut berasal dari daerah yang
berbeda-beda.
Orang Karo mempunyai
bahasa Karo yang merupakan bahasa yang mereka gunakan untuk berinteraksi satu
dengan lainnya dan juga memiliki acara adat yang dilaksanakan pada waktu
tertentu dan memiliki tujuan yang tertentu juga, seperti erpangir kulau, merdang merdem, nengget dan masih banyak lagi acara adat lainnya.
Acara adat yang sangat dinantikan oleh masyarakat karo yaitu pesta tahunan atau
biasa disebut orang Karo dengan sebutan merdang
merdem. Hampir semua setiap desa yang berada di Taneh Karo melakukan
tradisi merdang merdem, setiap desa
di Tanah Karo mempunyai cara yang berbeda untuk melaksanakannya dan juga waktu
yang berbeda juga. Nama yang diberikan untuk Kerja Tahun juga berbeda-beda
yaitu. Merdang merdem, nimpa bunga benih, mahpah, ngerires. Tradisi
yang rutin dilakukan oleh orang terkhusus orang Karo di sekitar kecamatan
Tigabinanga, Munte dan sekitarnya adalah tradisi yang dikenal dengan Merdang Merdem atau Kerja Tahun yang
dalam bahasa Indonesianya adalah pesta Tahunan.
Pengertian
Kerja Tahun, Pesta Tahunan (merdang
merdem)
Merdang merdem atau
dalam bahasa indoensia lebih dikenal dengan istilah kerja tahun merupakan suatu
pesta adat yang dilakukan secara turun temurun oleh kalak Karo di seluruh wilayah taneh
Karo dengan tujuan menjaga ketentraman dan keseimbangan bermasyarakat serta
membangun komunikasi dengan keluarga yang sudah lama tidak bertemu (Brahmana et
al., 2009)
Kerja tahun secara etimologi terdiri dari dua kata yakni kerja dan tahun, kerja dalam bahasa Karo
berarti pesta. Tahun yang berarti menunjukkan jarak waktu kurun satu tahun,
artinya bahwa merdang merdem atau
biasa disebut kerja tahun adalah pesta tradisi yang dilaksanakan masyarakat
karo terkhususnya masyarakat Karo yang ada di desa Juhar. Tradisi ini
berhubungan dengan kehidupan pertanian yang memang pada dasarnya kehidupan
ekonomi masyarakat yang bergantung kepada aspek pertanian. terkhusus masyarakat
yang menanam padi karena padi dianggap sebagai suatu sumber kehidupan dan
makanan pokok yang sebagai lambang sosial bagi masyarakat.
Desa
Juhar, Kecamatan Juhar, Kabupataen Karo Sumatera Utara
Juhar adalah sebuah kecamatan di
kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Kecamatan Juhar menjadi kecamatan
terbesar ketiga setelah Mardingding dan Laubaleng. Kecamatan Juhar ini dalam
bahasa familiarnya dikenal dengan sebutan Juhar
Si Mbelang. Yang dalam bahasa indonesianya adalah Juhar yang luas. Kecamatan
Juhar memiliki 25 Desa, namun di Desa Juharnya terdapat empat desa yaitu : Desa
Juhar Ginting, Desa Juhar Tarigan, Desa Juhar Perangin-angin, dan Desa Juhar
Ginting Sada Nioga. Berikut adalah Peta Kecamatan Juhar
Gambar 1. Peta Kecamatan
Juhar (sumber https://id.m.wikipedia.org/wiki/Juhar,_Karo)
Kecamatan Juhar memiliki 25 desa yang
ada didalamnnya yang masing-masing setiap desa memiliki tradisi dan acara adat
yang berbeda-beda, ada yang sama persis adat kebudayaannya, ada juga yang
berbeda adat kebudayaannya. Dari sekian banyak acara adat atau tradisi yang
dilakukan masyarakat Karo, tradisi merdang
merdem seperti yang sudah dikatakan sebelumnnya, bahwa tradisi ini
dilakukan di hari yang berbeda-beda dengan cara yang berbeda-beda disetiap
kecamatan yang ada di desa Juhar begitu juga dengan Kecamatan-kecamatan yang
lainnya yang ada di Tanah Karo. Namun hal menariknya yang perlu dikaji adalah
di Desa Juhar acara merdang merdem dilaksanakan
pada bulan Agustus dan puncaknya berada di tanggal 17 hal ini menandakan bahwa
sangat meriah perayaan acara merdang
merdem yang dilaksanakan berbarengan dengan hari lahirnya bangsa Indonesia.
Tradisi Merdang
Merdem di Desa Juhar
Tradisi merdang merdem di desa Juhar dilaksanakan setiap satu tahun sekali,
tradisi ini sebagai pengeskpresian bahwa rasa syukur kepada Tuhan atas segala
berkat yang telah diberikan. Untuk semua hasil panen masyarakat yang bisa
dinikmati. Begitu juga dengan hasil panen yang kurang memuaskan, tetapi tradisi
ini terus berjalan sebagaimana semestinya. Sebelum agama masuk ke sendi-sendi
kehidupan masyarakat Karo, kepercayaan yang masih animisme dan dinamisme yang
membuat tradisi ini merupakan suatu upacara ritual yang bertujuan untuk
mengucap syukur kepada leluhur-leluhur atas hasil pertanian yang baik. Rentetan
upacara itulah yang mendasari acara merdang-merdem
atau sekarang lebih dikenal dengan sebagai kerja tahun di masyarkat Karo (Ginting,
2007). Setelah agama masuk dan menyebar
ke masyarakat, tradisi ini kemudian bergeser ke suatu acara adat atau tradisi
yang bertujuan mengeratkan, hubungan kekeluargaan selain itu juga bahwa karena
masyarakat Karo percaya bahwa semuannya yang mereka punya itu adalah pemberian
dari yang maha kuasa sebagai suatu simbol dan pengekspresian masyarakat atas
hasil panen yang bagus.
Masyarakat di desa Juhar rata-rata
bermata pencaharian sebagai petani. Tanaman yang mereka tanam ada banyak
berbagai macam seperti; jagung, cokelat, padi, cabai, tomat dan berbagai macam
tanaman lainnya. Selain Kerja tahun
(merdang merdem) yang berhubungan dengan kehidupan sosial ekonomi dan
religi, tradisi ini juga berhubungan dengan kekerabatan. Setiap orang yang
merantau atau bekerja, sekolah maupun keluarga
di luar desa Juhar akan datang untuk kerja tahun.
Kerja Tahun atau merdang merdem yang biasa orang disekitar daerah Tigabinanga,
Munthe dan Juhar menyebutnya dengan sebutan itu, bahasa familiarnya adalah
kerja tahun kalau masyarakat Karo katakan. Kerja Tahun dimanfaatkan sebagai
suatu kesempatan untuk saling berkumpul satu sama lain dan bersilaturahmi baik
yang di luar daerah maupun yang antar daerah. Kerja tahun ini menjadi waktu
yang baik untuk berkumpul, jika orang tua memiliki anak pada saat maka orang
tua akan meminta anaknya untuk pulang dan berkumpul bersama kerabat (kade-kade) selama acara perayaan ini
dilaksanakan pada 16 Agustus sampai dengan 18 Agustus di pagi hari setiap rumah
tangga menyiapkan makanan untuk para tamu yang akan datang, makanan khas
tradisional tidak lupa disuguhkan didalam acara tradisi ini seperti pagit-pagit atau trites, cipera manuk, tasak
telu, cimpa dan berbagai makanan tradisional khas masyarakat Karo. acara
ini dianggap lebih penting dari pada acara keagamaan lainnya karena masyarakat
dari agama manapun bisa datang untuk saling bersilaturahmi. Jika teman si anak
ada teman yang mungkin bukan orang Karo maka jika dia datang untuk kerja tahun
di desa tersebut maka masyarakat karo menilai itu adalah hal yang wajar, jadi
setiap elemen masyarakat yang ingin datang untuk kerja tahun atau saling
bersilaturahmi maka itu bukan jadi masalah. Didesa Juhar biasanya tanggal 14
agustus, kendaraan roda dua dan roda empat banyak yang masuk ke desa tersebut
sehingga membuat jalanan menjadi ramai dan penuh dengan kemacetan.
Kerja Tahun sebagai suatu pesta tradisi
tahunan yang dilakukan dalam beberapa hari. Penentuan tanggal dan waktu
pelaksanaan sesuai dengan musyawarah antara masyarakat dan pemuka adat atau
tokoh adat yang ada di desa. Di Juhar tradisi Merdang Merdem Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus sampai dengan
18 Agustus di pagi hari. Acara Merdang
Merdem ini dilaksanakan disebuah bangunan yang bernama Losd yang digunkaan
masyarakat Karo untuk melaksanakan suatu acara adat maupun acara yang menyangkut
kepentingan orang banyak, di Desa Juhar terdapat delapan Losd yaitu losd
perangin-angin taneh gara, losd ginting rumah berneh, losd ginting rumah
gugung, losd perangin-angin (gepa), losd tarigan sebayak, losd tarigan jambur
lateng, losd segerat lembu dan losd
rumah tandok. Marga yang diakui dan menjadi penduduk asli di desa Juhar
adalah marga Tarigan, Ginting,
Perangin-angin. Namun diluar marga tersebut juga ada marga Sembiring dan Karo-karo, yang menjadi
pendatang di Desa juhar. Mereka datang dan menetap di Juhar karena pernikahan
ataupun penempatan kerja dan lain sebagainnya.
Tradisi Merdang merdem di mulai atau dilaksanakan pada tanggal 16 dan 17
agustus dan berbarengan juga dengan diperingatinya hari kelahiran bangsa
Indonesia pada tanggal 17 agusutus, banyak acara-acara yang digelar baik itu
acara adat maupun acara untuk memeriahkan, hari ulang tahun bangsa Indonesia.
Hal ini merupakan satu hal yang menjadi kebanggan masyarakat Desa Juhar karena,
pelaksanaan acara tradisi merdang merdem
bertepatan dengan lahirnya bangsa Indonesia. Pada bulan agustus mendekati
tanggal 17 Agustus berbagai acara untuk memeriahkan, acara tradisi merdang-merdem pun diselenggarakan
seperti pada tanggal 15 Agustus dibuat pergelaran acara tarian adat Karo, yang
menampilkan anak-anak sekolah yang berada di seluruh kecamatan Juhar yang
dibuat di Desa Juhar.
Berikut ini eksistensi acara atau
tradisi adat budaya dan juga sekaligus acara untuk memeriahkan HUT RI yang
bertepatan pada tanggal 17 di Desa Juhar.
Tanggal 16 Agustus
Pada tanggal 16 agustus di desa Juhar
dilaksanakan acara yang biasa disebut dengan motong atau sering juga
disebut mantem yang merupakan hari persiapan menuju hari H pada tanggal 17
agustus. Motong dalam artian merupakan
pelaksanakaan memotong hewan, hewan yang dipotong (disembelih) iyalah sapi yang
akan menjadi makanan hidangan di rumah warga. Masyarakat juga membeli kepada
pihak yang menjual daging sapi tersebut.
Selain itu hal yang dilaksanakan adalah
tradisi pawai obor yang dilaksanakan pada malam hari yang diikuti oleh siswa-siswi SD, SMP,
dan SMA beserta guru dan masyarakat. Pawai obor ini biasanya juga dilaksanakan
umat muslim untuk memperingati tahun baru islam 1442 Hijriah, namun Pawai obor yang dilaksanakan di desa
Juhar ini merupakan suatu hal yang menggambarkan dan sekaligus mengajarkan
nilai-nilai perjuangan kemerdekaan, bagaimana perjuangan pahlawan melawan
penjajah tanpa dilengkapi listrik dan cahaya lampu yang memadai karena
mengingat pada zaman dulu Indonesia belum merdeka jadi akses untuk mendapatkan
listrik yang memadai tidaklah mudah.

Gambar 2. Ilustrasi Pawai
Obor
Tanggal 17 Sampai Dengan (18 Agustus di Pagi Hari)
Pada Tanggal 17 agusutus
merupakan puncak tradisi merdang merdem ini,
yang memang pada tanggal 17 agustus biasanya dapat dilihat di Desa Juhar.
Keluarga saling mengunjungi baik dari luar daerah maupun dari dalam daerah dan
juga para keluarga yang datang dari luar daerah pada tanggal ini dipastikan
semua keluarga telah berkumpul dan menikmati hidangan makanan yang telah
disiapkan serta saling bersilaturahmi satu sama lain dan pastinya juga
memper-Erat kekerabatan.
Pada tanggal 17 agusutus di desa Juhar
ini juga dimeriahkan dengan pawai dari anak Sekolah SD, SMP, SMA, Guru, beserta
elemen masyarakat yang berjalan kira-kira 1 Km dan diiringi musik drum band
menuju lapangan bola kaki untuk melakukan upacara peringatan HUT RI. Selain itu
berbagai macam perlombaan, pada tanggal 17 agustus menjadi puncak
perlombaan-perlombaan seperti turnamen sepak bola, turnamen bulu tangkis.
Selain itu juga perlombaan cerdas cermat dan pemberian hadiah kepada
juara-juara cerdas cermat, lomba lari marathon, lomba senam lansia, lomba turnamen
dan masih banyak lomba yang lainnya diberikan pada hari itu juga pada tanggal
17 agusutus.
Gendang Guro-goro Aron
Gendang
Guro-goro Aron yang
merupakan pergelaran budaya yang dilakukan tiga hari. Acaranya dimulai pada
tanggal 16 agustus di malam hari sampai kepada tanggal 18 agustus di pagi hari
yang mana tanggal 17 agustus merupakan puncak acarannya. Acara pertunjukan seni
ini dilaksanakan di Losd rumah berneh karena
letaknya yang berada di tengah-tengah desa Juhar. Tradisi ini merupakan tradisi
yang meperkenalkan bagaimana adat dan budaya masyarakat Karo. perempuan dan
laki-laki yang sudah berusia 18 tahun ketas boleh untuk mengambil bagian dalam
acara ini atau dalam bahasa karonya (Mantek)
pemuda-pemudi menjadi sentral dalam acara ini, karena akan menari di
pergelaran seni ini. Namun acara ini membutuhkan dana yang bisa dikatakan besar
untuk mendapatkan dana tersebut, panitia membuat proposal dan mengutip kepada
setiap para pelaku usaha maupun orang Juhar yang bisa dikatakan berhasil untuk
meminta sumbangan. karena acaranya digelar tiga hari, dan menghadirkan bintang
tamu seperti artis Karo maupun Perkolong-kolong
yang merupakan dua orang yang pintar berbicara maupun pandai dalam bertutur
kata dan bernnyanyi dan menari untuk menghibur masyarakat.
Gendang
Guro-goro Aron sebagai tradisi yang mempertemukan jodoh adanya acara Gendang Guro-goro Aron yang menghibur
dengan tarian, lagu, dan musi tradisional mempertemukan pemuda dan pemudi dalam
perjododohan yang mungkin sebelumnya belum berkenalan didalam acara ini
pemuda-pemudi tersebut bisa saling berkenelaan satu sama lain. Para orang tua
juga saling memeperkenalkan anak-anaknya sehingga kekerabatan saling erat dan
semakin baik.

Gambar 3. Pentas Gendang
Guro-uro Aron di Desa Juhar tahun 2016

Gambar 4. Perkolong-kolong di
Desa Juhar tahun 2017

Gambar 5. Acara Gendang
Guro-guro Aron di Desa Juhar tahun 2018
Eksistensi Kerja Tahun (merdang merdem) sangat
dinanti-nanti oleh setiap masyarakat yang ada di tanah karo terkhususnya masyarakat
yang ada di desa Juhar, karena memang pergelaran budaya ini menjadi salah satu
tradisi adat yang masih dijaga sampai sekarang. Meskipun perubahan seperti alat
musik karo maupun pakaian adat yang digunakan memiliki berbagai perubahan yang
disebabkan oleh modernisasi dan kemajuan zaman. Eksistensi tradisi Merdang merdem di desa Juhar ini juga
sebagai salah satu meriahnya perayaan yang dibuat, karena puncak acaranya
berada di tanggal 17 agusutus yang merupakan hari lahirnya bangsa Indonesia dan
juga nila-nilai perjuangan para pahlawan tidak lupa diajarkan pada pergelaraan
budaya ini, sebagai kaum milenial pada sekarang ini kita harus menjaga dan
melestraikan setiap warisan budaya yang kita miliki supaya tidak habis dimakan
zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Brahmana, E.,
Rochayanti, C., Edy, M. S. 2009. “Nilai-nilai gotong royong dalam tari
Mbuah Page (analisis semiotika nilai-nilai gotong
royong dalam tari Mbuah Page pada
acara adat Merdang-Merdem di Desa
Perbesi Kecamatan Tigabinanga Kabupaten Karo Sumatera Utara”. Jurnal Ilmu Komunikasi 7 (1): 84-91.
Ginting, J. S.
2007. “Kerja Tahun Tradisi pada Masyarakat Karo”. Historisme 23(11):
6-8.
Ginting, Ulina,
Seri. Barus, Efendi. 2017. Bentuk
Kesantunan Dalam Tindak Tutur Perkawinan Adat Karo. Mahara
Publishing : Tangerang
Junita, Setiana,
Ginting. “Kerja Tahunan”, Pesta Tradisi
Masyarakat Karo. Medan : USU.
[Tersedia Online] https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/criksetra/article/download/ 4761 /2515 diakses pada tanggal 04
januari 2021 pukul 14.07
Mada, Triandala.
Diandala. (2017 Juni) Tradisi Merdang
Merdem Kalak Karo Di Desa Juhar, Kecamatan Juhar, Kabupaten
Karo, Sumatera Utara. Jurnal Sabda. Vol. 12 No. 1. Universitas Nommensen/ Universitas Diponegoro. [Tersedia Online] https://ejournal.undip.ac.id/index.php/sabda/article/view/15257 diakses pada tanggal 05 november 2020 pukul 14.07
Mantep prisaiii, nambah ilmu baru nih 🍀
BalasHapusMantap adik 🤩
BalasHapusSemangat dalam berkarya